Rabu, 30 Oktober 2013

Perusahaan Sepatu PHK 15 Ribu Karyawan, Pesangon Rp400 M

Sekertaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmito mengatakan, banyak kerugian yang didapat oleh kalangan pengusaha setelah pemerintah menaikkan Upah Minimum Pegawai (UMP). Sementara UMP itu pun hingga saat ini masih diminta naik oleh buruh.

Suryadi menyebutkan ada salah satu perusahaan sepatu, yang telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 15 ribu karyawannya dengan mengeluarkan dana sekira Rp400 miliar sebagai dana pesangon. Namun, dirinya tidak menyebutkan nama perusahaan yang memproduksi sepatu itu.

Untuk itu, guna menghindari kerugian paska terjadinya demo-demo dan berbagai keputusan mengenai hak-hak buruh yang telah disyahkan. Tidak sedikit berbagai perusahaan untuk berekspansi keluar dari wilayah Jabodetabek guna melangsungkan bisnisnya.

"Meninggalkan itu tidak mudah, pindah pabrik perlu ada modal besar (beli tanah, bangun, beli mesin, didik pegawai dulu, bayar PHK  dulu) itu ada aturannya. Untuk bayar PHK besarnya setengah mati, contoh pabrik sepatu 15 ribu karyawan, bayar PHK sampai Rp400 miliar. Bagaimana dia mau pindah, mereka dilema," kata Suryadi saat ditemui di Gedung Permata Kuningan, Jakarta, Selasa (29/10/2013).

Namun, Suryadi menyebutkan, ekspansi perusahaan memang sangat diperlukan, akan tetapi pelaksanaannya dapa dilakukan secara bertahap. Dibutuhkan minimal tiga tahun untuk melakukan pemindahan perusahaan ke lokasi yang UMP-nya jauh lebih rendah dibandingkan UMP Jabodetabek.

Suryadi menambahkan, banyak perusahaan di Jabodetabek yang melakukan ekspansi atau pemindahan perusahaan ke wilayah Jawa Tengah, Mojokerto, Solo. Hal tersebut lantaran besaran UMP masih terbilang aman.

"Sebenarnya ekspansi, itu bertahap, pindah secara full minimal tiga tahun. Setiap pabrik harus ekspansi kalau enggak rugi. Ya listrik naik, upah naik, sales enggak naik ya keuntungan kemakan. Tapi ada juga yang udah mikir, lebih baik jadi trading ajalah. Itu pikiran ketakutan kan," pungkasnya.



sumber: okezone.com
http://economy.okezone.com/read/2013/10/29/320/888787/perusahaan-sepatu-phk-15-ribu-karyawan-pesangon-rp400-m
Selasa, 29 Oktober 2013 16:22 wib
Hendra Kusuma - Okezone



Analisis:
Buruh merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk kemajuan perekonomian suatu bangsa, tanpa adanya buruh maka perusahaan tidak akan berjalan dengan baik. Akhir- akhir ini negeri kita sedang mempunyai suatu masalah yang ada hubungannya dengan "Buruh". Tepat beberapa bulan yang lalu buruh yang ada di Ibu kota dan sekitarnya berdemo menuntut hak kesejahteraannya kepada Pemerintah dengan meminta Pemerintah menaikan Upah Minimum Pegawai atau yang biasa disingkat UMP sekitar 28% dari Rp. 1.700.000 menjadi Rp. 2.200.000,- , dan pada minggu ini para buruh yang berdomisili bukan hanya di Jakarta dan sekitarnya namun juga didaerah- daerah kembali berdemo menaikan UMP segera dinaikan kembali 50% yaitu sebesar Rp. 3.700.000,-. Tentu saja hal ini dapat menimbulkan pro dan kontra bagi masyarakat, dan para pengusaha. Pengusaha tentu akan sangat keberatan jika menaikan UMP sebesar 3,7 Juta Rupiah kepada buruh, karena akan mengeluarkan biaya upah yang cukup banyak. Dalam kasus diatas saja ada sebuah perusahaan yang akhirnya mem PHK karyawannya demi kebaikan finansial keuangannya sebesar 15 ribu orang dengan mengeluarkan biaya pesangon sebanyak 400 Milyar Rupiah. Tentu ini merupakan biaya yang sangat besar dan tidak baik untuk Keuangan dan Kemajuan perusahaan tersebut. Tidak dibayangkan berapa Buruh yang akan diPHK oleh para perusahaan jika UMP benar- benar disetujui sebesar 3,7 Juta Rupiah.
Akan tetapi jika kita lihat dari sisi para buruh yang sangat ingin menuntut pemerintah menaikan UMP sebesar 50% yang artinya akan menjadi 3,7 Juta Rupiah, itu bisa dibilang wajar. Karena setiap buruh ingin mempunyai penghasilan yang lebih lagi dan mempunyai kehidupan yang layak dan makmur. Menurut para buruh UMP sebesar 2,2 Juta Rupiah masih belum cukup untuk memenuhi kehidupan dan kemakmurannya. Apalagi jika ada buruh yang menanggung Istri atau anak- anaknya. Dari segi kehidupan kita sudah banyak mengetahui jika harga- harga kebutuhan pokok di negeri kita saja bisa dibilang tidak murah, ditambah dengan pengurangan subsidi BBM Pemerintah yang berimbas kepada naiknya harga BBM Bersubsidi, tentu saja ini sangat memberatkan para buruh untuk mendapat kehidupan yang sebanding dengan kerjanya. Jadi menurut saya Pemerintah harus bijak dan dapat menjadi penengah antara para Buruh dan para Pengusaha, pemerintah harus cepat mengambil keputusan yang tepat sehingga dapat memenuhi keinginan para Buruh dan juga tidak merugikan kalangan Pengusaha perusahaan. Karena ini juga ada hubungannya dengan kondisi perekonomian bangsa ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar