PENDAHULUAN
1.
Peran Perikanan Budidaya di Indonesia
Perikanan
Budidaya di Indonesia merupakan salah satu komponen yang penting di sektor
perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang persediaan pangan
nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta mendatangkan
penerimaan negara dari ekspor. Perikanan budidaya juga berperan dalam
mengurangi beban sumber daya laut. Di samping itu perikanan budidaya dianggap
sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan ekonomi pedesaan.
Besarnya
kontribusi perikanan budidaya dan penangkapan ikan air tawar terhadap total
produksi ikan nasional sebesar 29,1%. Total produksi perikanan budidaya
meningkat 20,14% per tahun dari 1.076.750 ton pada tahun 2001 menjadi 2.163.674
ton di tahun 2005. Peningkatan ini merupakan dampak dari inovasi teknologi,
pertambahan areal dan ketersediaan benih ikan yang berkualitas. Pada tahun
2005, total produksi nasional dari budidaya ikan sebesar 2,16 juta ton (Made L.
Nurjana).
2.
Perkembangan Perikanan Budidaya Air Tawar
Menurut
Made L. Nurjana (2006), perikanan budidaya air tawar dimulai sejak jaman
penjajahan Belanda dengan penebaran benih ikan karper/ikan mas (Cyprinus
carpio) di kolam halaman rumah di Jawa Barat, pada pertengahan abad
19. Praktek perikanan budidaya ini kemudian menyebar ke bagian lain Pulau Jawa,
pada awal abad 20. Namun demikian baru pada akhir 1970 an terjadi peningkatan
produksi yang luar biasa dari budidaya ikan air tawar. Adanya pengenalan
teknologi baru dalam perikanan memberikan kontribusi pada ketersediaan benih
yang dihasilkan dan perkembangan pakan ikan. Spesies yang umum dibudidayakan
adalah ikan karper/ikan mas (Cyprinus carpio), ikan nila
(Oreochromis
niloticus) dan gurami (Osphronemus goramy).
Areal
potensial untuk perikanan budidaya terdiri dari kolam, sawah (mina
padi) dan perairan umum. Perikanan budidaya di perairan umum meliputi karamba
dan kolam. Perairan umum yang cocok untuk budidaya ikan berupa sungai, danau,
waduk dan lain-lain. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di perairan umum
haruslah ramah lingkungan, produktif dan mempertimbangkan pemakaian lainnya.
Berdasarkan pertimbangan ini diperkirakan sekitar 1,5% (158.200 hektar) dari
perairan umum di Indonesia
cocok untuk kegiatan perikanan budidaya.
Tabel 1.1. Areal Potensial untuk
Budidaya Ikan Air Tawar di Indonesia
|
No
|
Jenis Potensi Budidaya
|
Luas (Ha)
|
|
1
|
Kolam
air tawar
|
526.400
|
|
2
|
Perairan
umum
|
158.200
|
|
3
|
Sawah
|
1.545.900
|
|
|
Total
|
2.220.500
|
Sumber : Hasil
Survei Ditjen Perikanan, 1998
IKAN NILA
Ikan Nila adalah sejenis ikan konsumsi air
tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika tepatnya Afrika bagian timur yaitu di sungai
Nil (Mesir), danau Tanganyika, Chad, Nigeria, dan Kenya pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus,
dan dalam bahasa
Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.Genus Oreochromis merupakan genus ikan yang beradaptasi tinggi dan mempunyai
toleransi terhadap kualitas air dengan
kisaran yang lebar. Genus ini dapat hidup dalam
kondisi lingkungan yang ekstrim sekalipun karena sering kali ditemukan hidup
normal pada habitat-habitat yang ikan air tawar dari jenis lain tidak dapat hidup. Ciri ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah garis vertikal yang berwarna gelap di sirip ekor sebanyak enam buah, di sirip punggung (dorsal), sirip dubur (anal), berpunggung tinggi dan rendah. Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan
alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, dapat diketahui perbedaaan antara jantan dan betina. Untuk membedakan antara ikan jantan dan betina dapat dilakukan dengan mengamati
seksama lubang genitalnya (kelamin sekunder). Pada ikan jantan, warna tubuhnya lebih gelap, tulang rahang melebar ke belakang yang memberi
kesan kokoh, terdapat lubang anus dan
satu lubang genital yang berupa tonjolan agak kecil meruncing
sebagai saluran pengeluaran air kencing
dan sperma. Rasio jumlah ikan jantan dan betina ideal adalah 3:1, yaitu jumlah ikan betina] lebih banyak daripada [[ikan
jantan]. Padat penebaran disesuaikan dengan wadah atau kolam budidayanya.
Bila ikan nila dipelihara dalam kepadatan populasi yang tinggi,
pertumbuhannya kurang pesat. Kualitas air yang kurang baik akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Berikut
parameter yang menentukan kualitas air :
Suhu
air
pH
air
Ammonia
(NH3)
Oksigen
Terlarut (DO)
3. Budidaya Ikan Nila dan Prospeknya
Ikan nila merupakan salah satu komoditas penting
perikanan budidaya air tawar di Indonesia. Ikan ini sebenarnya bukan asli
perairan Indonesia, melainkan ikan introduksi yang berasal dari Afrika
(Khairuman dan Khairul Amri, 2006). Menurut sejarahnya, ikan nila pertama kali
didatangkan dari Taiwan ke Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Bogor pada
tahun 1969. Setahun kemudian ikan ini mulai disebarkan ke beberapa daerah.
Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direktur Jenderal Perikanan tahun
1972. Nama tersebut diambil dari nama spesies ikan ini, yakni nilotica yang
kemudian diubah menjadi nila. Para pakar perikanan memutuskan bahwa nama ilmiah
yang tepat untuk ikan nila adalah Oreochromis niloticus atau Oreochromis
sp.
Budidaya ikan nila disukai karena ikan nila mudah
dipelihara, laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, serta tahan
terhadap gangguan hama dan penyakit. Selain dipelihara di kolam biasa seperti
yang umum dilakukan, ikan nila juga dapat dibudidayakan di media lain seperti
kolam air deras, kantung jaring apung, karamba, sawah, bahkan dalam tambak (air
payau) sekalipun.
Salah
satu daerah yang potensial untuk budidaya ikan nila di Indonesia
adalah Provinsi Jawa Tengah, khusunya Kabupaten Klaten. Bahkan ikan nila merupakan
komoditas unggulah Jawa Tengah. Ini mengingat ikan nila selain untuk konsumsi
lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk
fillet (daging tanpa tulang dan kulit).
Budidaya
ikan nila di wilayah Klaten, dilakukan di lahan kolam maupun lahan non-kolam
berupa sawah dan perairan umum seperti rawa/waduk, sungai dan genangan air
lainnya. Sementara itu luas lahan kolam di Kabupaten Klaten yang bisa
dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan mencapai 110,37 ha. Namun demikian, mengingat
kedalaman air dan debit air yang terbatas dan cenderung berfluktuasi, maka
hanya sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Sedangkan
lahan non-kolam yang kini telah dimanfaatkan untuk budidaya ikan antara lain
adalah sawah (mina padi), rawa/waduk (karamba dan jaring tancap), dan perairan
umum. Sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan air kolam adalah berupa mata
air (umbul).
PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
Pola Usaha
Di Kabupaten Klaten, perikanan budidaya ikan nila
berkembang pesat. Perkembangan ini didukung dengan adanya usaha pembenihan dan
pembesaran.
1. Pembenihan Ikan
Kegiatan pembenihan ikan nila di kolam sangat ditentukan
oleh ketersediaan air yang kontinyu dan dalam jumlah yang mencukupi. Di
Kabupaten Klaten, Kecamatan Polanharjo dan Kecamatan Tulung yang memiliki
sumber air berlimpah berupa mata air, dikenal sebagai penghasil benih ikan nila
terbesar di wilayah tersebut. Kedua Kecamatan ini secara total memiliki andil
penyediaan benih sebesar 6,865 juta ekor/tahun atau 32,22% dari produksi benih
ikan nila di Kabupaten Klaten.
Namun demikian, untuk pengembangan usaha pembenihan di
kolam dimasa depan, Kecamatan Polanharjo memiliki potensi yang jauh lebih
tinggi daripada Kecamatan Tulung. Hal ini disebabkan luas kolam di Kecamatan
Tulung yang hanya 0,78 ha kurang mendukung usaha tersebut. Sementara itu di
Kecamatan Polanharjo yang memiliki kolam paling luas di Kabupaten Klaten yaitu
6,41 ha (15,21% dari total luas kolam di Klaten) sangat potensial dijadikan
sebagai sentra produksi benih. Selain itu secara kelembagaan, usaha pembenihan
tersebut juga sangat didukung oleh keberadaan Balai Benih Ikan (BBI) Ngrumbul
seluas 1,4 ha di Desa Kebonarum dan BBI Sentral Janti di Polanharjo.
2. Pembesaran Ikan
Usaha pembesaran ikan nila dilakukan di banyak Kecamatan
di Kabupaten Klaten. Seperti halnya usaha pembenihan, maka usaha pembesaran
ikan nila di Kabupaten Klaten juga berlangsung di lahan kolam maupun non kolam.
Sentra pembesaran ikan di kolam terdapat di Kecamatan Polanharjo, Kecamatan
Karanganom dan Kecamatan Tulung. Faktor sumber air yang melimpah serta banyak bermunculannya
restoran apung dan kolam pemancingan di kedua Kecamatan tersebut telah memicu
usaha pembesaran ikan di sana.
Rerata produksi ikan konsumsi di kedua Kecamatan
Polanhardjo sebesar 371,439 ton per tahun sedangkan di Kecamatan Tulung 320,131
ton per tahun. Produksi ikan konsumsi di Kecamatan Polanharjo secara pelan
namun pasti terus mengalami peningkatan dibanding wilayah lainnya. Terkait
dengan perikanan budidaya ikan nila, maka pada buku pola pembiayaan usaha kecil
ini akan diuraikan lebih banyak tentang usaha pembersarannya.
Pola Pembiayaan
Sampai saat ini petani ikan di Kecamatan Polanharjo dan
Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, belum ada yang memperoleh
pinjaman dana dari perbankan. Kebutuhan dana mereka dipenuhi oleh
Koperasi Unit Desa (KUD). Untuk mendapat pinjaman, mereka harus menjadi anggota
KUD setempat. Pada umumnya mereka mengajukan pinjaman untuk biaya operasional,
antara lain untuk membeli benih atau pakan ikan. Pinjaman ini akan dilunasi
setelah mereka panen (dengan masa pinjaman sama dengan masa budidaya
yaitu empat bulan). Bunga yang dibebankan sebesar 2% per bulan.
Meskipun
demikian, dari informasi perbankan di wilayah tersebut menyatakan bahwa terbuka
bagi usaha budidaya ikan nila untuk memperoleh kredit dari bank. Bahkan BRI
Kabupaten Klaten mempunyai komitmen memberikan kredit untuk kegiatan penunjang
ketahanan pangan di daerah tersebut, termasuk usaha budidaya ikan nila.
Persyaratan yang diberikan oleh BRI dalam pemberian kredit usaha mikro (kurang
dari Rp 100 juta) antara lain :
1.
Foto kopi KTP
calon debitur;
2.
Calon debitur
mempunyai usaha yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Kepala Desa
setempat;
3.
Surat keterangan
dari Dinas Perikanan (untuk kebenaran tentang usaha dan areal yang dipakai
sebagai usaha);
4.
Surat rekomendasi
dari Unit Pelayanan Perikanan (UPP) Kabupaten Klaten;
5.
Rincian biaya yang
diperkirakan (biaya investasi maupun biaya modal kerja).
Permintaan
Sampai saat ini permintaan ikan nila relatif besar yang
ditunjukkan dengan hasil panen yang hampir semuanya terserap oleh pasar.
Permintaan tersebut baik untuk memenuhi pasar domestik maupun pasar ekspor. Pada
pasar domestik permintaan ikan nila semakin meningkat seiring dengan semakin
tingginya kesadaran masyarakat mengkonsumsi ikan sebagai sumber protein hewani.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2005, tingkat
konsumsi ikan untuk masyarakat di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 4,51
prosen, yakni dari 23,95 kg/kapita/tahun menjadi 25,03 kg/kapita/tahun pada
tahun 2006. Konsumsi ikan
diperkirakan pada tahun 2007 akan menjadi 25,8 kg/kapita/tahun. Angka ini masih
dibawah standar kecukupan pangan untuk ikan yang ditetapkan yaitu sebesar 26,55
kg/kapita/tahun.
Sedangkan untuk pasar ekspor, salah satu pasar yang
paling potensial adalah Amerika Serikat. Saat ini Indonesia baru mampu memasok
rata-rata 8.000 ton ikan nila per tahun (Agrina, 5 April 2007). Sementara ikan
nila yang diimpor oleh Amerika Serikat dari berbagai negara sebanyak 158.253
ton. Ragam produk ikan nila yang diimpor oleh Amerika Serikat dalam bentuk
utuh, fillet (lempengan daging tanpa tulang) segar,
dan fillet beku. Kebutuhan fillet
ikan di Amerika setiap tahunnya sekitar 90 juta ton. Di samping Amerika Serikat, masih banyak negara lain yang
membutuhkan pasokan ikan nila, seperti Jepang, Singapura, Hongkong, dan Eropa.
Sementara, pemasok fillet nila terbesar dunia
adalah Cina, Indonesia, Thailand, Taiwan, dan Filipina. Namun demikian jumlah
seluruh pasokan tersebut masih jauh di bawah kebutuhan fillet ikan nila. Bahkan
berdasarkan data dari Food Agriculture Organization
(FAO), kebutuhan ikan untuk pasar dunia sampai tahun 2010 masih kekurangan
pasokan sebesar 2 juta ton/tahun (Khairuman dan Khairul Amri, 2006). Pemenuhan
kekurangan pasokan ikan ini dipenuhi dari hasil usaha budidaya, salah
satunya dari budidaya ikan nila.
Ekspor
fillet
nila dari Indonesia
hingga saat ini hanya mampu melayani tak lebih dari 0,1% dari permintaan pasar
dunia. Peluang pasar yang masih begitu besar, menjadikan sektor bisnis budidaya
ikan nila sebagai salah satu andalan untuk menambah pemasukan devisa negara.
Harga fillet nila asal Indonesia di pasaran ekspor pun
relatif tinggi, rata-rata US$ 6 per kilogram (Majalah Trust/14/2005).
Pada
pasal lokal, khususnya di wilayah penelitian, ikan nila disamping untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, juga untuk memasok ke
restoran-restoran apung serta tempat pemancingan, baik di Kabupaten Klaten
maupun di luar Kabupaten Klaten. Biasanya usaha kolam pemancingan akan membeli
ikan nila dengan ukuran 1 kg berisi 3-4 ekor ikan nila. Sedangkan, untuk
memenuhi permintaan ekspor ikan nila, maka Di Kecamatan Tulung berdiri pabrik Aquafarm,
yang usahanya melakukan pengemasan fillet ikan nila untuk di
ekspor ke luar negeri, utamanya pasar Amerika.
Ada sejumlah alasan mengapa ikan nila sangat digemari.
Warna dagingnya putih bersih, kenyal, dan tebal seperti daging ikan kakap
merah. Rasanya pun netral (tawar), sehingga mudah diolah untuk berbagai rasa
masakan. Karena merupakan hasil budi daya, pasokannya bisa diperoleh setiap
saat tanpa terpengaruh musim.
Penawaran
Produksi ikan nila di Kabupaten Klaten setiap tahun
mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 produksi ikan nila di Kabupaten Klaten
sebanyak 1.106.015 kg. Sedangkan pada tahun 2006, produksi nila mengalami
peningkatan sekitar 10 prosen menjadi 1.229.806 kg (Sub Dinas Perikanan
Kabupaten Klaten, 2007).
Sementara itu, luas lahan kolam di Kabupaten Klaten yang
bisa dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan mencapai 110,37 ha. Lahan non kolam
yang kini telah dimanfaatkan untuk budidaya ikan antara lain adalah sawah (mina
padi) dan rawa/waduk (karamba dan jaring tancap). Dengan kondisi alamnya yang
kaya akan sumber air, maka Kabupaten Klaten sangat potensial untuk
budidaya perikanan air tawar, khususnya ikan nila. Kolam-kolam pembesaran ikan
nila ini juga banyak dijumpai di pekarangan rumah.
Persaingan
dan Peluang Pasar
Meskipun
jumlah petani ikan nila cukup banyak di Kabupaten Klaten, namun karena sampai
saat ini jumlah permintaan lebih banyak dibandingkan penawaran, maka para
petani ikan nila di sana
dapat dikatakan belum merasakan persaingan. Peluang usaha untuk budidaya ikan
nila ini masih sangat besar. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya
kebutuhan akan pemenuhan gizi dari sumber protein hewani yang murah serta
kepedulian akan kesehatan dengan mengurangi konsumsi daging merah.
Harga
Penentuan harga ikan nila dilakukan
oleh kelompok petani ikan dan pasar. Harga yang diberikan
untuk pedagang (yang membeli dalam jumlah banyak) berbeda dengan harga untuk
pembeli eceran. Saat survei dilakukan (tahun 2007), harga ikan nila untuk
pembelian dalam jumlah banyak sebesar Rp9.700,- per kilogram, sedangkan
harga ikan nila eceran mencapai Rp12.000,- per kilogram.
Jalur
Pemasaran
Jalur
pemasaran ikan nila sangatlah sederhana. Pembeli (baik membeli dalam jumlah
besar maupun eceran) dapat langsung mendatangi pemilik kolam yang sedang panen
dan membeli hasil panenannya setelah ditimbang di tempat. Pembeli berasal dari
daerah setempat dan luar daerah.
Pembeli dalam partai besar (pedagang pengepul) akan
menjual ikan nila tersebut untuk restoran terapung atau tempat-tempat
pemancingan. Pedagang pengepul akan mengangkut ikan nila yang dibelinya dari pembudidaya
ikan ke tempat pemancingan ikan di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Semarang.
Kendala
Pemasaran
Masa budidaya usaha pembesaran ikan
nila adalah 4 (empat) bulan. Apabila ikan berada di kolam lebih dari waktu yang
sudah ditentukan maka akan memperbesar biaya pakannya. Untuk itu ikan nila
setelah 4 bulan dipelihara di kolam pembesaran harus dipanen. Mengingat
permintaan ikan nila masih lebih besar dibandingkan penawarannya, sejauh ini
pembudidaya ikan nila belum merasakan adanya kendala dalam pemasaran, karena
ikan yang dipanen selalu habis terjual.
ASPEK PRODUKSI
Lokasi
Usaha
Lokasi
usaha budidaya ikan nila sangat menentukan keberhasilan budidaya tersebut.
Terdapat beberapa persyaratan untuk lokasi budidaya ikan nila, antara lain :
1. Tanah
yang baik untuk kolam pemeliharaan ikan nila adalah jenis tanah liat/lempung.
Jenis tanah tersebut dapat menahan massa
air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2. Kemiringan
tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan
pengairan kolam secara gravitasi.
3. Ikan
nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m di bawah
permukaan laut).
4. Air
jangan terlalu keruh dan tidak tercemar baik dari limbah industri ataupun rumah
tangga. Kecerahan untuk di kolam yang baik + 45 cm sedangkan di tambak +
30 cm.
5. Debit
air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan
bersih. Nilai keasaman air (pH) berkisar 6-8,5 dengan nilai optimal 7-8.
6. Suhu
air yang optimal berkisar antara 25oC-30oC.
7.
Ikan nila mampu
hidup pada kadar garam 0-35 permil.
8. Dekat
dengan sumber air, dimana sumber air bisa berasal dari saluran irigasi, sungai,
sumur ataupun umbul.
Teknis Budidaya
1. Kolam Pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk
memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Benih yang akan
dibesarkan dapat berasal dari pendederan I (gelondongan kecil) ataupun
pendederan II. Kalau benih yang berasal pendederan II, berarti ukuran benih
sudah cukup besar, sehingga waktu yang dibutuhkan sampai panen tidak terlalu
lama. Usaha semacam ini mengandung resiko yang lebih kecil, karena tingkat
mortalitasnya rendah. Hasil panen yang seragam atau serempak pertumbuhannya
dengan ukuran super adalah salah satu target yang harus dicapai.
Ada 3 (tiga) faktor penting yang harus diperhatikan dalam
usaha pembesaran, yaitu : kualitas benih, kualitas pakan yang diberikan dan
kualitas airnya itu sendiri.
1.
Kualitas benih. Benih
unggul berasal dari induk yang unggul, karena itu sebaiknya benih dibeli dari
tempat pembenihan yang dapat dipercaya atau yang telah mendapat rekomendasi
dari pemerintah, seperti BBI. Benih baik bisa berasal dari hasil rekayasa
genetika seperti nila gift, proses seleksi,
proses persilangan dan sebagainya. Ciri-ciri
benih yang berkualitas yaitu tubuhnya tidak cacat/ luka, aktif berenang, senang
bergerombol dan apabila dikejutkan benih akan berpencar secara cepat, sisik
teratur rapi dan tidak kaku serta sirip lengkap dan proporsional.
2.
Kualitas pakan. Pakan
yang diberikan harus tepat dan dalam jumlah yang mencukupi. Yang dimaksud tepat
dalam hal ini adalah tepat ukuran, nilai nutrisi, keseragaman ukuran dan
kualitas.
3.
Kualitas air. Air
yang digunakan untuk usaha pembesaran harus memenuhi syarat, dalam arti
kandungan kimia dan fisika harus layak, bebas dari pencemaran dan tersedia
sepanjang waktu.
2. Fasilitas Produksi dan Peralatan
Langkah awal yang paling penting pada usaha budidaya
pembesaran ikan nila adalah mempersiapkan kolam yang akan digunakan sebagai
sarana budidaya. Sebelum benih ditebarkan, kolam harus dikeringkan selama
beberapa hari. Selama pengeringan tanah perlu dibolak-balik agar gas-gas
beracun seperti H2S dan NH3 dapat menguap. Disamping itu perlu ada perbaikan
pematang, saluran air, pintu pemasukan dan pengeluaran. Hal ini dilakukan untuk
mencegah kebocoran yang menyebabkan hama masuk ke dalam kolam.
Langkah selanjutnya adalah melakukan pengapuran dengan
maksud untuk memberantas hama dan penyakit. Untuk menumbuhkan plankton,
selanjutnya kolam perlu dipupuk dengan pupuk organik dan anorganik. Pupuk
organik yang biasa di gunakan adalah dari kotoran ternak seperti kotoran sapi,
kambing, kerbau ataupun ayam, sedangkan pupuk anorganiknya adalah Urea dan TSP.
Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian,
pembudidaya ikan nila di wilayah tersebut, tidak melakukan kegiatan persiapan
kolam sebelum benih ditebarkan. Artinya, setelah panen selesai dilakukan, benih
ikan kemudian langsung ditebarkan (masa pemeliharaan di kolam pembesaran selama
4 bulan). Pertimbangannya adalah dengan debit air yang cukup besar dan mengalir
sepanjang tahun, maka sisa kotoran hasil metabolisme dan sisa pakan akan keluar
sehingga kualitas air tetap terjaga. Dengan demikian mereka menganggap tidak
perlu melakukan pengeringan kolam. Terlebih karena sumber air yang digunakan
pembudidaya setempat berasal dari mata air (umbul) yang mengalir sepanjang
tahun. Air umbul merupakan sumber air bebas pathogen, terutama bila jarak
antara sumber air dengan unit budidaya tidak terlalu jauh dan bebas dari
kontaminasi.
Meskipun
ada sisi baiknya, namun sumber air tersebut miskin plakton, sementara kandungan
nitrogen, besi, dan logam beratnya tinggi. Hal ini dapat menyebabkan
pertumbuhan ikan yang dibudidayakan terganggu dan menimbulkan penyakit non infeksi.
Untuk
mendukung operasional maka diperlukan beberapa peralatan seperti: jala, anco,
drum, ember, timbangan, tabung oksigen, serok, jaring dan cangkul. Pada kolam
intensif mestinya harus dilengkapi dengan peralatan untuk mengukur kualitas air
seperti: DO meter, pH meter, Thermometer dan Spektrophotometer kalau
memungkinkan. Alat yang terakhir ini sangat diperlukan mengingat pada kolam
intensif dihasilkan sisa buangan yang banyak dan memungkinkan tercemarnya kolam
tersebut ( NH3 dan H2S).
Teknik Operasional
Usaha pembesaran nila di Kecamatan Karanganom dan
Polanharjo, Kabupaten Klaten dilakukan dengan cara sederhana. Karena sumber
airnya bersih dan mengalir lancar, maka petani nila di Kabupaten Klaten tidak
melakukan usaha persiapan kolam seperti pengeringan kolam, penjemuran dan
pembersihan kolam dari rumput dan kotoran. Juga tidak dilakukan usaha
pengapuran dan pemupukan kolam. Yang dilakukan pembudidaya adalah mengecek
saluran air dan saringan yang dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran,
untuk memperlancar aliran.
1. Penebaran Benih dan Pengaturan Kepadatan
Benih ikan yang ditebarkan harus mempunyai kualitas yang
baik dan seragam ukurannya. Benih ditebar pada pagi/sore hari saat suhu udara
masih rendah. Hal ini dimaksudkan supaya benih ikan tidak mengalami stres.
Kepadatan atau kerapatan ikan yang dibudidayakan harus
disesuaikan dengan standar atau tingkatan budidaya. Peningkatan kepadatan akan
menyebabkan daya dukung kehidupan ikan per individu menurun. Kepadatan yang
terlalu tinggi (overstocking) akan meningkatkan kompetisi pakan,
ikan mudah stress dan akhirnya akan menurunkan kecepatan pertumbuhan. Kepadatan
ikan yang dibudidayakan di karamba jaring apung (KJA) sebanyak 3-5 kg/m2,
di keramba 5 kg/m2, sedangkan di kolam air deras antara 10-15 kg/m2.
untuk kolam seluas 100 m2. Benih yang ditebar
ukurannya 5-7 cm dan diambil dari daerah setempat. Padat penebaran sebesar itu
dianggap sudah tinggi dan dapat dikategorikan dalam tipe usaha pembesaran yang
intensif.
2. Pemberian Pakan
Ikan nila termasuk dalam golongan ikan omnivora
atau pemakan segala. Jenis, ukuran dan jumlah pakan yang diberikan tergantung
dari ukuran ikan nila yang dipelihara. Ada dua jenis pakan ikan nila, yaitu pakan alami dan pakan buatan.
Disamping itu dapat pula diberikan pakan alternatif.
Pakan alami ikan nila adalah jasad - jasad renik, kutu
air, cacing, jentik-jentik serangga dan sebagainya. Pakan alternatif yang biasa
diberikan adalah sisa - sisa dapur rumah tangga.
Yang perlu dicermati dalam pemberian pakan alternatif ini
adalah bahwa pakan tersebut merupakan reservoir parasit/mikro
organisme, sehingga pemanfaatan makanan tersebut akan melengkapi siklus hidup
beberapa parasit ikan. Oleh karena itu pemberian pakan alternatif, terutama
yang sudah jelek kualitasnya (busuk) sejauh mungkin dihindari.
Kebersihan pakan, cara pemberian dan penyimpanannya perlu
diperhatikan benar agar transmisi parasit dan penyakit tidak terjadi pada hewan
budidaya. Dengan melihat kekurangan yang ada pada pakan alternatif/tambahan,
maka seyogyanya ikan nila diberikan pakan buatan yang memenuhi persyaratan baik
nutrisinya maupun jumlahnya. Walaupun banyak nilai kebaikan dari pakan buatan,
tapi harus diperhatikan pula dari segi finansialnya, karena hampir 50% dari
biaya produksi merupakan biaya pakan.
Pakan ikan yang digunakan oleh pembudidaya di daerah
survei adalah pakan buatan (pelet). Pakan ini diberikan dengan cara ditebarkan
secara merata dengan tujuan adar setiap individu ikan akan mendapatkannya,
sehingga tidak terjadi persaingan. Dosis yang dipergunakan adalah 3-5% dari
bobot tubuhnya setiap hari. Pakan diberikan 2-3 kali sehari. Banyaknya pelet
yang diberikan untuk 1 ton benih ikan selama 4 bulan masa pemeliharaan sebanyak
170 zak, dengan berat 30 kg per zak nya. Rincian pemberian pakan ikan dapat
dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 4.1. Rincian
Pemberian Pakan pada Ikan
|
Bulan
|
Volume (zak)
|
|
Pertama
|
25
|
|
Kedua
|
60
|
|
Ketiga
|
60
|
|
Keempat
|
25
|
Sumber : Data primer, 2007
3.
Pemanenan
Panen
ikan nila dilakukan secara total, yaitu dengan cara mengeringkan kolam hingga
ketinggian air tinggal 10 cm. Petak pemanenan atau petak penangkapan dibuat
seluas 1 m2 di depan pintu pengeluaran. Dengan demikian ikan yang
sudah terkumpul akan mudah ditangkap. Pemanenan dilakukan pada pagi hari saat
cuaca belum panas dengan menggunakan waring yang halus. Pemanenan dilakukan
dengan hati-hati dan waktu yang secepatnya, hal ini untuk menghindari luka pada
ikan.
ASPEK SOSIAL EKONOMI
1.
Aspek Ekonomi
Usaha
budidaya ikan nila memberikan manfaat secara ekonomis bagi masyarakat setempat,
antara lain berupa :
1. Penyediaan
lapangan kerja, bukan hanya bagi petani ikan, tetapi juga pihak-pihak
lain yang terkait dengan usaha budidaya ini, seperti pedagang ikan, buruh,
usaha pengangkutan dan lain-lain.
2. Sumber
pendapatan keluarga bagi pembudidaya dan pihak-pihak lain yang terkait dengan
usaha budidaya ini.
3. Meningkatkan
Produk Domestik Bruto (PDRB) Pemerintah Daerah setempat baik melalui
peningkatan volume produksi dan atau perluasan pasar.
4. Sumber
penerimaan devisa negara melalui penjualan ikan nila baik dalam bentuk
utuh beku, fillet segar, atau fillet
beku ke pasar luar negeri (ekspor).
5. Usaha
ini juga memiliki kaitan ke hulu (backward linkage) yaitu
pada usaha pembuatan pakan ikan, pupuk buatan serta budidaya pembenihan ikan
nila. Disamping itu juga memiliki kaitan ke hilir (forward linkage)
seperti pada usaha perdagangan ikan, jasa pengangkutan, rumah makan, jasa
rekreasi peman-cingan, pengolahan fillet ikan, dan
sebagainya.
2.
Aspek Sosial
Dengan
tersedianya sumber protein yang harganya terjangkau oleh sebagian besar
masyarakat, maka secara tidak langsung usaha budidaya ikan nila ini juga
bermanfaat untuk memperbaiki gizi masyarakat. Disamping itu dengan menyediakan
lapangan kerja, budidaya ikan nila ini dapat berfungsi untuk mengurangi tingkat
pengangguran, yang pada akhirnya juga berdampak pada pengurangan kemiskinan dan
kerawanan sosial.
ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN
Pada
saat penggantian air kolam, maka air yang mengalir dari kolam ikan nila tersebut
bercampur dengan kotoran ikan, sisa-sisa makanan dan ikan yang mati, yang
kadang-kadang menimbulkan bau tidak sedap. Air kolam tersebut dapat dianggap
mencemari ataupun mendukung lingkungan tergantung pada lokasi budidaya. Jika lokasi budidaya ikan nila dilakukan di perairan
umum, dapat dianggap menimbulkan pencemaran air dan udara karena kotoran dan
baunya. Namun bila budidaya ikan ini dilakukan di lahan yang bercampur dengan
tanaman atau di sawah, air kolam yang bercampur kotoran ini justru dianggap menyuburkan
tanaman.