Kamis, 06 Oktober 2011

Berbisnis Budidaya Ikan Nila


PENDAHULUAN

1. Peran Perikanan Budidaya di Indonesia
Perikanan Budidaya di Indonesia merupakan salah satu komponen yang penting di sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang persediaan pangan nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta mendatangkan penerimaan negara dari ekspor. Perikanan budidaya juga berperan dalam mengurangi beban sumber daya laut. Di samping itu perikanan budidaya dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan ekonomi pedesaan.
Besarnya kontribusi perikanan budidaya dan penangkapan ikan air tawar terhadap total produksi ikan nasional sebesar 29,1%. Total produksi perikanan budidaya meningkat 20,14% per tahun dari 1.076.750 ton pada tahun 2001 menjadi 2.163.674 ton di tahun 2005. Peningkatan ini merupakan dampak dari inovasi teknologi, pertambahan areal dan ketersediaan benih ikan yang berkualitas. Pada tahun 2005, total produksi nasional dari budidaya ikan sebesar 2,16 juta ton (Made L. Nurjana).

2. Perkembangan Perikanan Budidaya Air Tawar
Menurut Made L. Nurjana (2006), perikanan budidaya air tawar dimulai sejak jaman penjajahan Belanda dengan penebaran benih ikan karper/ikan mas (Cyprinus carpio) di kolam halaman rumah di Jawa Barat, pada pertengahan abad 19. Praktek perikanan budidaya ini kemudian menyebar ke bagian lain Pulau Jawa, pada awal abad 20. Namun demikian baru pada akhir 1970 an terjadi peningkatan produksi yang luar biasa dari budidaya ikan air tawar. Adanya pengenalan teknologi baru dalam perikanan memberikan kontribusi pada ketersediaan benih yang dihasilkan dan perkembangan pakan ikan. Spesies yang umum dibudidayakan adalah ikan karper/ikan mas (Cyprinus carpio), ikan nila (Oreochromis niloticus) dan gurami (Osphronemus goramy).
Areal potensial untuk perikanan budidaya terdiri dari kolam, sawah (mina padi) dan perairan umum. Perikanan budidaya di perairan umum meliputi karamba dan kolam. Perairan umum yang cocok untuk budidaya ikan berupa sungai, danau, waduk dan lain-lain. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di perairan umum haruslah ramah lingkungan, produktif dan mempertimbangkan pemakaian lainnya. Berdasarkan pertimbangan ini diperkirakan sekitar 1,5% (158.200 hektar) dari perairan umum di Indonesia cocok untuk kegiatan perikanan budidaya.

Tabel 1.1. Areal Potensial untuk Budidaya Ikan Air Tawar di Indonesia

No
Jenis Potensi Budidaya
Luas (Ha)
1
Kolam air tawar
526.400
2
Perairan umum
158.200
3
Sawah
1.545.900

Total
2.220.500
Sumber : Hasil Survei Ditjen Perikanan, 1998


IKAN  NILA 
Ikan Nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika tepatnya Afrika bagian timur yaitu di sungai Nil (Mesir), danau Tanganyika, Chad, Nigeria, dan Kenya pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.Genus Oreochromis merupakan genus ikan yang beradaptasi tinggi dan mempunyai toleransi terhadap kualitas air dengan kisaran yang lebar. Genus ini dapat hidup dalam kondisi lingkungan yang ekstrim sekalipun karena sering kali ditemukan hidup normal pada habitat-habitat yang ikan air tawar dari jenis lain tidak dapat hidup. Ciri ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah garis vertikal yang berwarna gelap di sirip ekor sebanyak enam buah, di sirip punggung (dorsal), sirip dubur (anal), berpunggung tinggi dan rendah. Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, dapat diketahui perbedaaan antara jantan dan betina. Untuk membedakan antara ikan jantan dan betina dapat dilakukan dengan mengamati seksama lubang genitalnya (kelamin sekunder). Pada ikan jantan, warna tubuhnya lebih gelap, tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh, terdapat lubang anus dan satu lubang genital yang berupa tonjolan agak kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran air kencing dan sperma. Rasio jumlah ikan jantan dan betina ideal adalah 3:1, yaitu jumlah ikan betina] lebih banyak daripada [[ikan jantan]. Padat penebaran disesuaikan dengan wadah atau kolam budidayanya. Bila ikan nila dipelihara dalam kepadatan populasi yang tinggi, pertumbuhannya kurang pesat. Kualitas air yang kurang baik akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Berikut parameter yang menentukan kualitas air :
                    
Suhu  air
Suhu air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan. Suhu juga mempengaruhi oksigen terlarut dalam perairan. Suhu optimal untuk hidup ikan nila pada kisaran 14-38 °C, secara alami ikan ini dapat memijah pada suhu 22-37 °C namun suhu yang baik untuk perkembanganbiakannya berkisar 25-30 °C.
pH air
Nilai pH merupakan logaritma negatif dari aktivitas ion hydrogen. Beberapa faktor yang mempengaruhi pH perairan yaitu aktivitas fotosintesis, suhu, dan terdapatnya anion dan kation. pH yang ditoleransi ikan nila antara 5-11, tetapi pertumbuhan dan perkembangan yang [[optimal adalah pada kisaran pH 7-8.

                  
 
Ammonia (NH3)
Amonia merupakan bentuk utama ekskresi nitrogen dari organisme akuatik. Sumber utama ammonia (NH3) adalah bahan organik dalam bentuk sisa pakan, kotoran ikan maupun dalam bentuk plankton dari bahan organik tersuspensi. Pembusukan bahan organik terutama yang banyak mengandung protein menghasilkan ammonium (NH4+) dan NH3. Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berjalan lancar maka akan terjadi penumpukan NH3 sampai pada konsentrasi yang membahayakan bagi ikan.

                  
 
Oksigen Terlarut  (DO)
Oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi, proses pembakaran makanan, aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Sumber oksigen dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Kadar oksigen terlarut yang optimal bagi pertumbuhan ikan nila adalah lebih dari 5 mg/l. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran (untuk kolam yang bagian dasarnya berlumpur) juga akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air yang disebabkan oleh adanya plankton, air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuning dan hijau kecoklatan karena banyak mengandung diatom. Plankton ini baik untuk makanan ikan nila. Sedangkan plankton biru kurang baik. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan. Kadar garam air yang optimal untuk pemmbudidayaan ikan nila antara 0-35 C, oleh karena itu ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 dpl). Telur ikan nila berbentuk bulat berwarna kekuningan dengan diameter sekitar 2,8 mm. Sekali memijah dapat mengeluarkan telur sebanyak 300-1.500 butir, tergantung ukuran induk betina, sehingga larva yang dihasilkan pun kurang lebih sama dengan jumlah telurnya. Ikan nila merupakan ikan yang mempunyai sifat yang unik setelah memijah. Induk betina mengulumtelur-telur yang telah dibuahi di dalam rongga mulutnya. Perilaku in disebut Mouth Breeder (pengeram telur dalam mulut).

3. Budidaya Ikan Nila dan Prospeknya
Ikan nila merupakan salah satu komoditas penting perikanan budidaya air tawar di Indonesia. Ikan ini sebenarnya bukan asli perairan Indonesia, melainkan ikan introduksi yang berasal dari Afrika (Khairuman dan Khairul Amri, 2006). Menurut sejarahnya, ikan nila pertama kali didatangkan dari Taiwan ke Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Bogor pada tahun 1969. Setahun kemudian ikan ini mulai disebarkan ke beberapa daerah. Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direktur Jenderal Perikanan tahun 1972. Nama tersebut diambil dari nama spesies ikan ini, yakni nilotica yang kemudian diubah menjadi nila. Para pakar perikanan memutuskan bahwa nama ilmiah yang tepat untuk ikan nila adalah Oreochromis niloticus atau Oreochromis sp.

 Budidaya ikan nila disukai karena ikan nila mudah dipelihara, laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, serta tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Selain dipelihara di kolam biasa seperti yang umum dilakukan, ikan nila juga dapat dibudidayakan di media lain seperti kolam air deras, kantung jaring apung, karamba, sawah, bahkan dalam tambak (air payau) sekalipun.

Salah satu daerah yang potensial untuk budidaya ikan nila di Indonesia adalah Provinsi Jawa Tengah, khusunya Kabupaten Klaten. Bahkan ikan nila merupakan komoditas unggulah Jawa Tengah. Ini mengingat ikan nila selain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet (daging tanpa tulang dan kulit).
Budidaya ikan nila di wilayah Klaten, dilakukan di lahan kolam maupun lahan non-kolam berupa sawah dan perairan umum seperti rawa/waduk, sungai dan genangan air lainnya. Sementara itu luas lahan kolam di Kabupaten Klaten yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan mencapai 110,37 ha. Namun demikian, mengingat kedalaman air dan debit air yang terbatas dan cenderung berfluktuasi, maka hanya sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Sedangkan lahan non-kolam yang kini telah dimanfaatkan untuk budidaya ikan antara lain adalah sawah (mina padi), rawa/waduk (karamba dan jaring tancap), dan perairan umum. Sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan air kolam adalah berupa mata air (umbul).
 
PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
Pola Usaha
Di Kabupaten Klaten, perikanan budidaya ikan nila berkembang pesat. Perkembangan ini didukung dengan adanya usaha pembenihan dan pembesaran.

1. Pembenihan Ikan
Kegiatan pembenihan ikan nila di kolam sangat ditentukan oleh ketersediaan air yang kontinyu dan dalam jumlah yang mencukupi. Di Kabupaten Klaten, Kecamatan Polanharjo dan Kecamatan Tulung yang memiliki sumber air berlimpah berupa mata air, dikenal sebagai penghasil benih ikan nila terbesar di wilayah tersebut. Kedua Kecamatan ini secara total memiliki andil penyediaan benih sebesar 6,865 juta ekor/tahun atau 32,22% dari produksi benih ikan nila di Kabupaten Klaten.
Namun demikian, untuk pengembangan usaha pembenihan di kolam dimasa depan, Kecamatan Polanharjo memiliki potensi yang jauh lebih tinggi daripada Kecamatan Tulung. Hal ini disebabkan luas kolam di Kecamatan Tulung yang hanya 0,78 ha kurang mendukung usaha tersebut. Sementara itu di Kecamatan Polanharjo yang memiliki kolam paling luas di Kabupaten Klaten yaitu 6,41 ha (15,21% dari total luas kolam di Klaten) sangat potensial dijadikan sebagai sentra produksi benih. Selain itu secara kelembagaan, usaha pembenihan tersebut juga sangat didukung oleh keberadaan Balai Benih Ikan (BBI) Ngrumbul seluas 1,4 ha di Desa Kebonarum dan BBI Sentral Janti di Polanharjo.

2. Pembesaran Ikan
Usaha pembesaran ikan nila dilakukan di banyak Kecamatan di Kabupaten Klaten. Seperti halnya usaha pembenihan, maka usaha pembesaran ikan nila di Kabupaten Klaten juga berlangsung di lahan kolam maupun non kolam. Sentra pembesaran ikan di kolam terdapat di Kecamatan Polanharjo, Kecamatan Karanganom dan Kecamatan Tulung. Faktor sumber air yang melimpah serta banyak bermunculannya restoran apung dan kolam pemancingan di kedua Kecamatan tersebut telah memicu usaha pembesaran ikan di sana.
Rerata produksi ikan konsumsi di kedua Kecamatan Polanhardjo sebesar 371,439 ton per tahun sedangkan di Kecamatan Tulung 320,131 ton per tahun. Produksi ikan konsumsi di Kecamatan Polanharjo secara pelan namun pasti terus mengalami peningkatan dibanding wilayah lainnya. Terkait dengan perikanan budidaya ikan nila, maka pada buku pola pembiayaan usaha kecil ini akan diuraikan lebih banyak tentang usaha pembersarannya.



Pola Pembiayaan
Sampai saat ini petani ikan di Kecamatan Polanharjo dan Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, belum ada yang memperoleh pinjaman dana dari perbankan. Kebutuhan dana  mereka dipenuhi oleh Koperasi Unit Desa (KUD). Untuk mendapat pinjaman, mereka harus menjadi anggota KUD setempat. Pada umumnya mereka mengajukan pinjaman untuk biaya operasional, antara lain untuk membeli benih atau pakan ikan. Pinjaman ini akan dilunasi setelah mereka panen (dengan masa  pinjaman sama dengan masa budidaya yaitu empat bulan). Bunga yang dibebankan sebesar 2% per bulan.
Meskipun demikian, dari informasi perbankan di wilayah tersebut menyatakan bahwa terbuka bagi usaha budidaya ikan nila untuk memperoleh kredit dari bank. Bahkan BRI Kabupaten Klaten  mempunyai komitmen memberikan kredit untuk kegiatan penunjang ketahanan pangan di daerah tersebut, termasuk usaha budidaya ikan nila. Persyaratan yang diberikan oleh BRI dalam pemberian kredit usaha mikro (kurang dari Rp 100 juta) antara lain :
1.    Foto kopi KTP calon debitur;
2.    Calon debitur mempunyai usaha yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Kepala Desa setempat;
3.    Surat keterangan dari Dinas Perikanan (untuk kebenaran tentang usaha dan areal yang dipakai sebagai usaha);
4.    Surat rekomendasi dari Unit Pelayanan Perikanan (UPP) Kabupaten Klaten;
5.    Rincian biaya yang diperkirakan (biaya investasi maupun biaya modal kerja).

Permintaan
Sampai saat ini permintaan ikan nila relatif besar yang ditunjukkan dengan hasil panen yang hampir semuanya terserap oleh pasar. Permintaan tersebut baik untuk memenuhi pasar domestik maupun pasar ekspor. Pada pasar domestik permintaan ikan nila semakin meningkat seiring dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat mengkonsumsi ikan sebagai sumber protein hewani. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2005, tingkat konsumsi ikan untuk masyarakat di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 4,51 prosen, yakni dari 23,95 kg/kapita/tahun menjadi 25,03 kg/kapita/tahun pada tahun 2006. Konsumsi ikan diperkirakan pada tahun 2007 akan menjadi 25,8 kg/kapita/tahun. Angka ini masih dibawah standar kecukupan pangan untuk ikan yang ditetapkan yaitu sebesar 26,55 kg/kapita/tahun.
Sedangkan untuk pasar ekspor, salah satu pasar yang paling potensial adalah Amerika Serikat. Saat ini Indonesia baru mampu memasok rata-rata 8.000 ton ikan nila per tahun (Agrina, 5 April 2007). Sementara ikan nila yang diimpor oleh Amerika Serikat dari berbagai negara sebanyak 158.253 ton. Ragam produk ikan nila yang diimpor oleh Amerika Serikat dalam bentuk utuh, fillet (lempengan daging tanpa tulang) segar, dan fillet beku. Kebutuhan fillet ikan di Amerika setiap tahunnya sekitar 90 juta ton. Di samping Amerika Serikat, masih banyak negara lain yang membutuhkan pasokan ikan nila, seperti Jepang, Singapura, Hongkong, dan Eropa.
Sementara, pemasok fillet nila terbesar dunia adalah Cina, Indonesia, Thailand, Taiwan, dan Filipina. Namun demikian jumlah seluruh pasokan tersebut masih jauh di bawah kebutuhan fillet ikan nila. Bahkan berdasarkan data dari  Food Agriculture Organization (FAO), kebutuhan ikan untuk pasar dunia sampai tahun 2010 masih kekurangan pasokan sebesar 2 juta ton/tahun (Khairuman dan Khairul Amri, 2006). Pemenuhan kekurangan pasokan  ikan ini dipenuhi dari hasil usaha budidaya, salah satunya dari budidaya ikan nila.
Ekspor fillet nila dari Indonesia hingga saat ini hanya mampu melayani tak lebih dari 0,1% dari permintaan pasar dunia. Peluang pasar yang masih begitu besar, menjadikan sektor bisnis budidaya ikan nila sebagai salah satu andalan untuk menambah pemasukan devisa negara. Harga fillet nila asal Indonesia di pasaran ekspor pun relatif tinggi, rata-rata US$ 6 per kilogram (Majalah Trust/14/2005).
Pada pasal lokal, khususnya di wilayah penelitian, ikan nila disamping untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, juga untuk memasok ke restoran-restoran apung serta tempat pemancingan, baik di Kabupaten Klaten maupun di luar Kabupaten Klaten. Biasanya usaha kolam pemancingan akan membeli ikan nila dengan ukuran 1 kg berisi 3-4 ekor ikan nila. Sedangkan, untuk memenuhi permintaan ekspor ikan nila, maka Di Kecamatan Tulung berdiri pabrik Aquafarm, yang usahanya melakukan pengemasan fillet ikan nila untuk di ekspor ke luar negeri, utamanya pasar Amerika.
Ada sejumlah alasan mengapa ikan nila sangat digemari. Warna dagingnya putih bersih, kenyal, dan tebal seperti daging ikan kakap merah. Rasanya pun netral (tawar), sehingga mudah diolah untuk berbagai rasa masakan. Karena merupakan hasil budi daya, pasokannya bisa diperoleh setiap saat tanpa terpengaruh musim. 

Penawaran
Produksi ikan nila di Kabupaten Klaten setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 produksi ikan nila di Kabupaten Klaten sebanyak 1.106.015 kg. Sedangkan pada tahun 2006, produksi nila mengalami peningkatan sekitar 10  prosen menjadi 1.229.806 kg (Sub Dinas Perikanan Kabupaten Klaten, 2007).
Sementara itu, luas lahan kolam di Kabupaten Klaten yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan mencapai 110,37 ha. Lahan non kolam yang kini telah dimanfaatkan untuk budidaya ikan antara lain adalah sawah (mina padi) dan rawa/waduk (karamba dan jaring tancap). Dengan kondisi alamnya yang kaya akan sumber air,  maka Kabupaten Klaten sangat potensial untuk budidaya perikanan air tawar, khususnya ikan nila. Kolam-kolam pembesaran ikan nila ini juga banyak dijumpai di pekarangan rumah.

Persaingan dan Peluang Pasar
Meskipun jumlah petani ikan nila cukup banyak di Kabupaten Klaten, namun karena sampai saat ini jumlah permintaan lebih banyak dibandingkan penawaran, maka para petani ikan nila di sana dapat dikatakan belum merasakan persaingan. Peluang usaha untuk budidaya ikan nila ini masih sangat besar. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan pemenuhan gizi dari sumber protein hewani yang murah serta kepedulian akan kesehatan dengan mengurangi konsumsi daging merah.

Harga
Penentuan harga ikan nila dilakukan oleh kelompok petani ikan dan pasar. Harga yang diberikan untuk pedagang (yang membeli dalam jumlah banyak) berbeda dengan harga untuk pembeli eceran. Saat survei dilakukan (tahun 2007), harga ikan nila untuk pembelian dalam jumlah banyak sebesar Rp9.700,- per kilogram,  sedangkan harga ikan nila eceran mencapai Rp12.000,- per kilogram.

Jalur Pemasaran
Jalur pemasaran ikan nila sangatlah sederhana. Pembeli (baik membeli dalam jumlah besar maupun eceran) dapat langsung mendatangi pemilik kolam yang sedang panen dan membeli hasil panenannya setelah ditimbang di tempat. Pembeli berasal dari daerah setempat dan luar daerah.

Pembeli dalam partai besar (pedagang pengepul) akan menjual ikan nila tersebut untuk restoran terapung atau tempat-tempat pemancingan. Pedagang pengepul akan mengangkut ikan nila yang dibelinya dari pembudidaya ikan ke tempat pemancingan ikan di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Semarang.



Kendala Pemasaran
Masa budidaya usaha pembesaran ikan nila adalah 4 (empat) bulan. Apabila ikan berada di kolam lebih dari waktu yang sudah ditentukan maka akan memperbesar biaya pakannya. Untuk itu ikan nila setelah 4 bulan dipelihara di kolam pembesaran harus dipanen. Mengingat permintaan ikan nila masih lebih besar dibandingkan penawarannya, sejauh ini pembudidaya ikan nila belum merasakan adanya kendala dalam pemasaran, karena ikan yang dipanen selalu habis terjual.

ASPEK PRODUKSI

Lokasi Usaha
Lokasi usaha budidaya ikan nila sangat menentukan keberhasilan budidaya tersebut. Terdapat beberapa persyaratan untuk lokasi budidaya ikan nila, antara lain :
1.    Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan ikan nila adalah jenis tanah liat/lempung. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2.    Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3.    Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m di bawah permukaan laut).
4.    Air jangan terlalu keruh dan tidak tercemar baik dari limbah industri ataupun rumah tangga. Kecerahan untuk di kolam yang baik + 45 cm sedangkan di tambak + 30 cm.
5.    Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan bersih. Nilai keasaman air (pH) berkisar 6-8,5 dengan nilai optimal 7-8.
6.    Suhu air yang optimal berkisar antara 25oC-30oC.
7.    Ikan nila mampu hidup pada kadar garam 0-35 permil.
8.    Dekat dengan sumber air, dimana sumber air bisa berasal dari saluran irigasi, sungai, sumur ataupun umbul.


Teknis Budidaya

1. Kolam Pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Benih yang akan dibesarkan dapat berasal dari pendederan I (gelondongan kecil) ataupun pendederan II. Kalau benih yang berasal pendederan II, berarti ukuran benih sudah cukup besar, sehingga waktu yang dibutuhkan sampai panen tidak terlalu lama. Usaha semacam ini mengandung resiko yang lebih kecil, karena tingkat mortalitasnya rendah. Hasil panen yang seragam atau serempak pertumbuhannya dengan ukuran super adalah salah satu target yang harus dicapai.
Ada 3 (tiga) faktor penting yang harus diperhatikan dalam usaha pembesaran, yaitu : kualitas benih, kualitas pakan yang diberikan dan kualitas airnya itu sendiri.
1.    Kualitas benih. Benih unggul berasal dari induk yang unggul, karena itu sebaiknya benih dibeli dari tempat pembenihan yang dapat dipercaya atau yang telah mendapat rekomendasi dari pemerintah, seperti BBI. Benih baik bisa berasal dari hasil rekayasa genetika seperti nila gift, proses seleksi, proses persilangan dan sebagainya.  Ciri-ciri benih yang berkualitas yaitu tubuhnya tidak cacat/ luka, aktif berenang, senang bergerombol dan apabila dikejutkan benih akan berpencar secara cepat, sisik teratur rapi dan tidak kaku serta sirip lengkap dan proporsional.
2.    Kualitas pakan. Pakan yang diberikan harus tepat dan dalam jumlah yang mencukupi. Yang dimaksud tepat dalam hal ini adalah tepat ukuran, nilai nutrisi, keseragaman ukuran dan kualitas.
3.    Kualitas air. Air yang digunakan untuk usaha pembesaran harus memenuhi syarat, dalam arti kandungan kimia dan fisika harus layak, bebas dari pencemaran dan tersedia sepanjang waktu.

2. Fasilitas Produksi dan Peralatan
Langkah awal yang paling penting pada usaha budidaya pembesaran ikan nila adalah mempersiapkan kolam yang akan digunakan sebagai sarana budidaya. Sebelum benih ditebarkan, kolam harus dikeringkan selama beberapa hari. Selama pengeringan tanah perlu dibolak-balik agar gas-gas beracun seperti H2S dan NH3 dapat menguap. Disamping itu perlu ada perbaikan pematang, saluran air, pintu pemasukan dan pengeluaran. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran yang menyebabkan hama masuk ke dalam kolam.
Langkah selanjutnya adalah melakukan pengapuran dengan maksud untuk memberantas hama dan penyakit. Untuk menumbuhkan plankton, selanjutnya kolam perlu dipupuk dengan pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik yang biasa di gunakan adalah dari kotoran ternak seperti kotoran sapi, kambing, kerbau ataupun ayam, sedangkan pupuk anorganiknya adalah Urea dan TSP.
Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, pembudidaya ikan nila di wilayah tersebut, tidak melakukan kegiatan persiapan kolam sebelum benih ditebarkan. Artinya, setelah panen selesai dilakukan, benih ikan kemudian langsung ditebarkan (masa pemeliharaan di kolam pembesaran selama 4 bulan). Pertimbangannya adalah dengan debit air yang cukup besar dan mengalir sepanjang tahun, maka sisa kotoran hasil metabolisme dan sisa pakan akan keluar sehingga kualitas air tetap terjaga. Dengan demikian mereka menganggap tidak perlu melakukan pengeringan kolam. Terlebih karena sumber air yang digunakan pembudidaya setempat berasal dari mata air (umbul) yang mengalir sepanjang tahun. Air umbul merupakan sumber air bebas pathogen, terutama bila jarak antara sumber air dengan unit budidaya tidak terlalu jauh dan bebas dari kontaminasi.

Meskipun ada sisi baiknya, namun sumber air tersebut miskin plakton, sementara kandungan nitrogen, besi, dan logam beratnya tinggi. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan ikan yang dibudidayakan terganggu dan menimbulkan penyakit non infeksi.
Untuk mendukung operasional maka diperlukan beberapa peralatan seperti: jala, anco, drum, ember, timbangan, tabung oksigen, serok, jaring dan cangkul. Pada kolam intensif mestinya harus dilengkapi dengan peralatan untuk mengukur kualitas air seperti: DO meter, pH meter, Thermometer dan Spektrophotometer kalau memungkinkan. Alat yang terakhir ini sangat diperlukan mengingat pada kolam intensif dihasilkan sisa buangan yang banyak dan memungkinkan tercemarnya kolam tersebut ( NH3 dan H2S).

Teknik Operasional
Usaha pembesaran nila di Kecamatan Karanganom dan Polanharjo, Kabupaten Klaten dilakukan dengan cara sederhana. Karena sumber airnya bersih dan mengalir lancar, maka petani nila di Kabupaten Klaten tidak melakukan usaha persiapan kolam seperti pengeringan kolam, penjemuran dan pembersihan kolam dari rumput dan kotoran. Juga tidak dilakukan usaha pengapuran dan pemupukan kolam. Yang dilakukan pembudidaya adalah mengecek saluran air dan saringan yang dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran, untuk memperlancar aliran.

1. Penebaran Benih dan Pengaturan Kepadatan
Benih ikan yang ditebarkan harus mempunyai kualitas yang baik dan seragam ukurannya. Benih ditebar pada pagi/sore hari saat suhu udara masih rendah. Hal ini dimaksudkan supaya benih ikan tidak mengalami stres.
Kepadatan atau kerapatan ikan yang dibudidayakan harus disesuaikan dengan standar atau tingkatan budidaya. Peningkatan kepadatan akan menyebabkan daya dukung kehidupan ikan per individu menurun. Kepadatan yang terlalu tinggi (overstocking) akan meningkatkan kompetisi pakan, ikan mudah stress dan akhirnya akan menurunkan kecepatan pertumbuhan. Kepadatan ikan yang dibudidayakan di karamba jaring apung (KJA) sebanyak 3-5 kg/m2, di keramba 5 kg/m2, sedangkan di kolam air deras antara 10-15 kg/m2.

untuk kolam seluas 100 m2. Benih yang ditebar ukurannya 5-7 cm dan diambil dari daerah setempat. Padat penebaran sebesar itu dianggap sudah tinggi dan dapat dikategorikan dalam tipe usaha pembesaran yang intensif.

2. Pemberian Pakan
Ikan nila termasuk dalam golongan ikan omnivora atau pemakan segala. Jenis, ukuran dan jumlah pakan yang diberikan tergantung dari ukuran ikan nila yang dipelihara. Ada dua jenis pakan ikan nila, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Disamping itu dapat pula diberikan pakan alternatif.
Pakan alami ikan nila adalah jasad - jasad renik, kutu air, cacing, jentik-jentik serangga dan sebagainya. Pakan alternatif yang biasa diberikan adalah sisa - sisa dapur rumah tangga.
Yang perlu dicermati dalam pemberian pakan alternatif ini adalah bahwa pakan tersebut merupakan reservoir parasit/mikro organisme, sehingga pemanfaatan makanan tersebut akan melengkapi siklus hidup beberapa parasit ikan. Oleh karena itu pemberian pakan alternatif, terutama yang sudah jelek kualitasnya (busuk) sejauh mungkin dihindari.
Kebersihan pakan, cara pemberian dan penyimpanannya perlu diperhatikan benar agar transmisi parasit dan penyakit tidak terjadi pada hewan budidaya. Dengan melihat kekurangan yang ada pada pakan alternatif/tambahan, maka seyogyanya ikan nila diberikan pakan buatan yang memenuhi persyaratan baik nutrisinya maupun jumlahnya. Walaupun banyak nilai kebaikan dari pakan buatan, tapi harus diperhatikan pula dari segi finansialnya, karena hampir 50% dari biaya produksi merupakan biaya pakan.
Pakan ikan yang digunakan oleh pembudidaya di daerah survei adalah pakan buatan (pelet). Pakan ini diberikan dengan cara ditebarkan secara merata dengan tujuan adar setiap individu ikan akan mendapatkannya, sehingga tidak terjadi persaingan. Dosis yang dipergunakan adalah 3-5% dari bobot tubuhnya setiap hari. Pakan diberikan 2-3 kali sehari. Banyaknya pelet yang diberikan untuk 1 ton benih ikan selama 4 bulan masa pemeliharaan sebanyak 170 zak, dengan berat 30 kg per zak nya. Rincian pemberian pakan ikan dapat dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1. Rincian Pemberian Pakan pada Ikan

Bulan
Volume (zak)
Pertama
25
Kedua
60
Ketiga
60
Keempat
25
Sumber : Data primer, 2007


3. Pemanenan
Panen ikan nila dilakukan secara total, yaitu dengan cara mengeringkan kolam hingga ketinggian air tinggal 10 cm. Petak pemanenan atau petak penangkapan dibuat seluas 1 m2 di depan pintu pengeluaran. Dengan demikian ikan yang sudah terkumpul akan mudah ditangkap. Pemanenan dilakukan pada pagi hari saat cuaca belum panas dengan menggunakan waring yang halus. Pemanenan dilakukan dengan hati-hati dan waktu yang secepatnya, hal ini untuk menghindari luka pada ikan.

 
ASPEK SOSIAL EKONOMI

1. Aspek Ekonomi
Usaha budidaya ikan nila memberikan manfaat secara ekonomis bagi masyarakat setempat, antara lain berupa :
1.    Penyediaan lapangan kerja, bukan hanya  bagi petani ikan, tetapi juga pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha budidaya ini, seperti pedagang ikan, buruh, usaha pengangkutan dan lain-lain.
2.    Sumber pendapatan keluarga bagi pembudidaya dan pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha budidaya ini.
3.    Meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDRB) Pemerintah Daerah setempat baik melalui peningkatan volume produksi dan atau perluasan pasar.
4.    Sumber penerimaan devisa negara melalui penjualan ikan nila  baik dalam bentuk utuh beku, fillet segar, atau fillet beku ke pasar luar negeri (ekspor).
5.    Usaha ini juga memiliki kaitan ke hulu (backward linkage)  yaitu pada usaha pembuatan pakan ikan, pupuk buatan serta budidaya pembenihan ikan nila. Disamping itu juga memiliki kaitan ke hilir (forward linkage) seperti pada usaha perdagangan ikan, jasa pengangkutan, rumah makan, jasa rekreasi peman-cingan, pengolahan fillet ikan, dan sebagainya.

2. Aspek Sosial
Dengan tersedianya sumber protein yang harganya terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, maka secara tidak langsung usaha budidaya ikan nila ini juga bermanfaat untuk memperbaiki gizi masyarakat. Disamping itu dengan menyediakan lapangan kerja, budidaya ikan nila ini dapat berfungsi untuk mengurangi tingkat pengangguran, yang pada akhirnya juga berdampak pada pengurangan kemiskinan dan kerawanan sosial.
 
ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN
Pada saat penggantian air kolam, maka air yang mengalir dari kolam ikan nila tersebut bercampur dengan kotoran ikan, sisa-sisa makanan dan ikan yang mati, yang kadang-kadang menimbulkan bau tidak sedap. Air kolam tersebut dapat dianggap mencemari ataupun mendukung lingkungan tergantung pada lokasi budidaya. Jika lokasi budidaya ikan nila dilakukan di perairan umum, dapat dianggap menimbulkan pencemaran air dan udara karena kotoran dan baunya. Namun bila budidaya ikan ini dilakukan di lahan yang bercampur dengan tanaman atau di sawah, air kolam yang bercampur kotoran ini justru dianggap menyuburkan tanaman.
 

4 komentar:

  1. bagi rekan2 pembudidaya ikan yg sedang cari2 pakan alternatif,kami juga menyediakan Azolla microphylla sebagai pakan ikan alternatif dengan kandungan protein yg tinggi.anda dapat membudidayakanya sendiri sebagai stok,azolla sangat cepat berkembang biak,mudah di budidayakan.dengan membudidayakan azolla,anda serasa punya pabrik pakan sendiri.info hub 085264608009
    http://www.kaskus.co.id/post/50fecc3d7d12436208000003#post50fecc3d7d12436208000003

    BalasHapus
  2. Halo, nama saya Laima, saya adalah korban di tangan kreditur penipuan saya telah ditipu 27 juta, karena saya butuh modal besar dari 140 juta, saya hampir mati, tidak ada makanan untuk anak-anak saya, bisnis saya adalah hancur dalam proses saya kehilangan suami saya. Saya dan anak-anak saya tidak tahan lagi .all ini terjadi Januari 2015, tidak sampai saya bertemu seorang teman yang memperkenalkan saya kepada ibu ibu yang baik Alexandra yang akhirnya membantu saya mendapatkan mengamankan pinjaman di perusahaannya, ibu yang baik, saya ingin menggunakan kesempatan ini terima kasih dan Allah terus memberkati Anda, saya juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk memberitahu semua orang Indonesia, bahwa ada banyak penipuan di luar sana, jika Anda membutuhkan pinjaman dan kontak pinjaman dijamin ibu yang baik Alexandra melalui email perusahaan. alexandraestherloanltdd@gmail.com
    atau alexandraestherfastservice@cash4u.com,
    Anda dapat menghubungi saya melalui email ini; laimajelena@gmail.com untuk setiap informasi yang Anda perlu tahu, silakan dia adalah satu-satunya orang yang jujur saya dapat memberitahu Anda.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  3. Halo, saya Mrs Christy Morris, pemberi pinjaman pinjaman pribadi memberikan kesempatan seumur hidup pinjaman ini. Apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk melunasi hutang-hutang Anda segera atau Anda membutuhkan pinjaman untuk meningkatkan komersial Anda? Apakah Anda telah ditolak oleh bank dan lainnya lembaga finansial? Kami memberikan pinjaman kepada individu yang membutuhkan bantuan finansial, yang berhutang buruk atau membutuhkan uang untuk membayar tagihan, kami memberikan pinjaman pada tingkat rendah 2%. Saya ingin menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa kami memberikan bantuan yang mungkin dipercaya dan penerima dan akan bersedia untuk menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini via e-mail di: (christymorrisloanfirm@gmail.com)

    BalasHapus
  4. Halo,
    Apakah Anda secara finansial turun? Mendapatkan pinjaman sekarang dan menghidupkan kembali bisnis Anda, Kami adalah kreditur yang dapat diandalkan dan kami memprakarsai program pinjaman ini untuk memberantas kemiskinan dan menciptakan kesempatan untuk hak istimewa yang kurang memungkinkan mereka membangunnya sendiri dan menghidupkan kembali bisnis mereka di tahun baru ini. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi kami via email: (gloryloanfirm@gmail.com). Isi formulir Informasi Peminjam di bawah ini:

    Nama lengkap: _______________
    Negara: __________________
    Jenis Kelamin: ______________________
    Umur: ______________________
    Jumlah Pinjaman yang Dibutuhkan: _______
    Durasi pinjaman: ____________
    Tujuan pinjaman: _____________
    Nomor ponsel: ________

    Mohon mengajukan permohonan untuk perusahaan yang sah.

    BalasHapus